Ini dia nih masalah yang selalu muncul ketika hampir masuk tahun ajaran baru, gak lain dan gak bukan adalah UNAS alias Ujian Nasional. Kenapa diributkan? ya karena si UNAS ini telah menjadi momok bagi para pelajar tingkat akhir, baik SMP maupun SMA. Dengan standar nilai lulus yang ditetapkan dan menjadi patokan itu, banyak siswa yang gagal dan dinyatakan tidak lulus. Agak aneh memang peraturannya, bagaimana tidak? setelah belajar di sekolah selama 3 tahun (SMP dan SMA), dan mempelajari begitu banyak mata pelajaran, pada akhirnya untuk bisa lulus hanya ditentukan dengan nilai beberapa mata pelajaran saja.
Tapi mungkin sebenarnya juga menguntungkan bagi siswa karena tidak perlu berkonsentrasi pada semua mata pelajaran yang telah dipelajari selama di sekolah. Tapi bagi anak SMK? gak tau bagaimana sekarang, yang jelas dulu untuk dapat lulus SMK, saya yang merupakan siswa jurusan teknik audio video alias elektronika harus bertempur dengan pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, yang dikit banget hubungannya dengan jurusan saya, padahal untuk SMK itu lebih ditekankan pada skill dan keterampilan, walaupun memang banyak anak yang pintar secara akademis.
Oke, bukan itu yang ingin saya bahas disini sekarang, melainkan momok UNAS dan cerita dibalik UNAS itu sendiri. Seperti yang kita semua tau, menjelang penyelenggaraan UNAS ini media tentu banyak membahas mengenai pro kontra penyelenggaraan UNAS ini, mengenai perlu atau tidaknya diadakan, dan bisa atau tidaknya UNAS dijadikan sebagai tolak ukur kecerdasan dan kemampuan siswa sehingga ia pantas untuk lulus. Tetapi biasanya UNAS tetap dilaksanakan sesuai rencana.Lalu pada saat-saat pengumuman hasil UNAS, sepertinya hal ini menjadi peristiwa yang luar biasa bahkan menurut saya seperti telah terjadi suatu bencana atau musibah hingga menimbulkan jatuhnya beberapa korban bahkan korban jiwa karena kenyataannya beberapa siswa yang dinyatakan tidak lulus akan merasa sangat depresi hingga beberapa diantaranya nekat untuk melakukan aksi bunuh diri.
Sebegitu hebatnya UNAS ini hingga mampu memberi pengaruh seperti itu. Bukan maksud hati ingin menyombonkan diri atau apa, tapi saya ingin sedikit menuliskan tentang pandangan saya tentang UNAS dan segala permasalahan dan tragedi yang diakibatkannya. Pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan memang menetapkan standar lulus UNAS yang harus dicapai oleh siswa, dan selama ini standar lulus tersebut menurut saya masih cukup rendah, waktu itu standar lulus ketika saya masih sekolah di SMK adalah 4 koma sekian (saya lupa), nilai yang rendah dan bahkan dengan nilai sigitu tertempel di raport pun bukan hanya siswa yang menjadi peserta UNAS, tapi siswa yang akan naik kelas juga akan terhambat, bahkan gagal.
Momok UNAS mungkin sebenarnya bukan dari standar nilai lulusnya, walau pun stadar nilai lulus diturunkan menjadi 2 atau 1 koma sekian, tetap saja bila si calon peserta sudah merasa down dulu ya tetep juga bisa gagal. Memang kutakutan siswa dengan UNAS ini sangat berlebihan, tetapi juga tidak tanpa alasan mengingat beberapa siswa yang tidak lulus adalah katanya siswa berprestasi di sekolahnya, bahkan seorang siswa yang langganan juara kelas maupun siswa teladan.
Hmmm…UNAS memang aneh, saya jadi bingung ketika siswa-siswa yang tidak lulus tersebut mengaku bahwa mereka adalah siswa-siswa berprestasi, saya harus percaya atau tidak?
Pertama, kalau saya percaya bahwa beberapa diantara mereka merupakan siswa berprestasi, ini berarti soal Ujian Nasional tersebut memang sangat sulit alias berat hingga mereka yang berprestasi pun gagal menakhlukkannya, apalagi bagi mereka yang biasa-biasa aja. Padahal beberapa siswa yang tidak terlalu menonjol prestasinya saja bisa lulus dengan nilai baik, minimal sedikit diatas nilai standar UNAS tersebut (contoh : saya sendiri, hehehe).
Kedua, kalau saya tidak percaya bahwa beberapa diantara mereka yang tidak lulus tersebut adalah siswa berprestasi, berarti saya meragukan kepintaran mereka bahkan menduga kalo mereka hanya mengaku-ngaku saja dan terkesan sangat menyepelekan mereka.
Hmm…sekali lagi, UNAS memang aneh dengan segala permasalahannya. Mungkin memang sistim pendidikan di Negri ini butuh formula baru yang tepat untuk meningkatkan mutunya. Mungkin memang standar lulus atau hak untuk meluluskan maupun tidak meluluskan siswa dari sekolah adalah diberikan kepada pihak sekolah itu sendiri yang dalam hal ini selalu memantau keadaan dan perkembangan serta keseharian siswa di sekolah, bukan negara, karena sekolah bukan hanya tempat untuk menambah isi otak, tetapi juga sebagai tempat bagi siswa untuk belajar mengenai perilaku dan budi pekerti, bayangkan saja bila siswa yang lulus adalah siswa yang dalam mengerjakan soal UNAS-nya mengandalkan contekan dan bukan dari hasil belajar serta kerja kerasnya, sedangkan siswa yang tidak lulus adalah siswa yang dengan bersungguh-sungguh berusaha dengan jujur namun tidak lulus karena faktor ‘x’ yang entah apa itu.
Semoga dengan sedikit sumbangan pikiran ini dapat membantu setidaknya ikut mengiringi peningkatan kualitas dunia pendidikan kita, Amiin…..
hmm….
iya juga sih..
tapi klo gw pikir-pikir
indonesia perlu lho sebuah standar supaya bisa di adu dengan negara lain dan mengukur kepintaran indonesia tuh seberapa
mengenai orang teladan yang tidak lulus uan….
hmm….
mungkin sebaiknya ada remedial UAN kali yha…
biar yang tidak lulus bisa mencobanya lagi
klo ga salah udah ada sih, tapi cuman beberapa universitas doank yang mau menerimanya

jadi ituh salah siapa?
pemerintah apa yang punya universitasnya?
yak.. unas lagi
tapi katanya pemerintah tetep menyelenggarakan unas kok.. jadi ane harus siap2 nih
karena memang gak seharusnya dibuat standar seperti itu. Contohnya kemarin ada sekolah yang terkena gempa, kemudian tuh sekolah sudah hampir ambruk. Tapi sekolah ini seluruh siswanya wajib ikut ujian nasional. Gila apa yah?standar nomral diterapkan ke keadaan yang tidak normal tanpa kecuali???
Gak bisa seperti itu. Selain kasus seperti di atas tadi, Kalau berkaca ke luar negeri yang kondisi pendidikannya lebih tertata, gak ada tuh yang namanya ujian seperti itu (ambil contoh di Belanda). Mulai dari tingkat sekolah sistemnya sudah seperti di kuliah. Jadi siswa bisa mengambil mata pelajaran yang disukainya dan meninggalkan yang tidak disukainya.
Yang perlu kita ingat, kemampuan dan minat manusia itu tidak standar. Jadi apa hak kita (pemerintah) menstandarisasi dalam artian memberi stigma bahwa si A bodoh dan si B tidak bodoh karena sebuah standar yang dibuat sendiri.
Beda kalau misalnya tuh anak memilih sendiri mata pelajaran yang disukainya. Ia punya passion dan tenaga dari dalam dirinya untuk menyelesaikan studinya dengan nilai baik. Di negara yang punya sistem pendidikan yang baik, yang dites itu yang menjadi pilihan si anak. Dan itu pun hanya untuk mengukur prestasinya buat kemudian ditingkatkan. Dan untuk menunjukan cocok nggaknya seorang siswa dibidang tertentu. Gak ada tuh yang namanya gak lulus!
Coba deh kalau dokter di suruh jadi sastrawan pasti klenger. Atau Pelukis di minta menyelesaikan persoalan nuklir seperti insinyur pasti berantakan. Tapi kalau yang memang minat nuklir kemudian di minta di tes tentang nuklir pasti semangat untuk mengejar prestasi di bidang itu.
Tidak ada yang namanya standar pintar. Yang ada itu hanya mereka yang ahli dibidang yang disukainya. Jadi gak boleh membuat suatu standar untuk menstigma yang satu itu lulus dan yang satu tidak, dengan ukuran yang dibuat pemerintah dengan menunjuk pelajaran tertentu.
@ bukan facebook : betull…kasian amat kalo harus di judge bahwa kita bodoh hanya dari parameter nilai mata pelajaran yang g jadi minat kita….
@ liana : hehehe….emosi juga gpp, asal g terlalu ekstrim aja di sini….hehe
iya q setuju ma bukan facebook, mending pemerintah tuh meningkatkan kualitas sekolah dan guru pengajarnya, bantu2 memajukan fasilitas sekolah. jangan asal maen naikin standar kelulusan. skalian klo bisa sistem nya langsung penjurusan kayak kuliah jadi jangan belasan matapelajaran diajarkan tapi yang buat ujian nasional cuman 3 ato 4 aja. gila apa (sory rada emosi)
Sudah sedari dahulu kala….
awardnya udah bisa diambil tuh …
Realita Negeri ini, dari dulu sampe sekarang gak pernah berubah :
Pendidikan yang selalu bermasalah dengan standarisasi nilai dan kurikulum, menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang hanya mengagungkan prestise tanpa dibarengi prestasi.